Setelah satu bulan aku berjalan-jalan di tempat ini, semakin kusadari
bahwa demologis wilayah ini berbeda curam dengan tempat dimana aku dibesarkan.
Sebuah disparitas kentara dan tak bisa kuadaptasi. Sebuah wilayah dimana segala
sesuatu menjadi sesuatu, dan sebuah kesungguhan tak ubah pengebirian norma.
Wilayah kosong tidak diantara hitam ataupun putih.
Sebuah wacana yang akhirnya menggelinding semakin besar dan
menghancurkan; baik atas pemahamanku atas sebuah kebiasaan maupun pengertiannya
atas wilayah normatif yang ada dan telah ada.
“ Mbak, sudah kukatakan ini bukan masalah namun hanya pengertian, maka
tak perlu kau menengokkan kepalamu sebagai pertanda bahwa aku najis yang bisa
dihindari.” Kataku saat itu setelah pelontaran sebuah kata tak tentu arah.
Sebuah kata yang menyadarkanku bahwa mungkin saja aku terbangun pada mimpi yang
salah.
“ Mas, sudah kubilang, aku tidak hendak dan mau memperbincangkan debat
kusir berkepanjangan denganmu. Itu masalahmu dan tak perlu kau sangkut-pautkan
denganku. Untuk kau mengerti aku tidak berkenan untuk turut serta dalam karut
marut masalah yang tanam sendiri.”
“ Aku tidak mempermasalahkan bila kau memang memiliki kehendak untuk
enggan bercakap-cakap, namun mengertilah; ini sebuah kesinambungan dan bukan
tanpa sebab sekalaunya aku dan kamu bertemu dan melaju semakin cepat.”
“ Ini bukan permasalahan itu, dan juga bukan permasalahan aku
mendiskusikan sebuah pilihan yang absurd dan tak nyata.”
“ Lho, kau tahu itu absurd, kenapa tak kau telusuri untuk mencari titik
temu, setidaknya sebuah petualangan batin?”
“ Aku enggan dan tiada hendak punya niat, aku sudah cukup kelam dan
pekat, tak perlulah kau buyarkan itu dalam persepsimu, semua kembali ke pilihan
batinku atas kesadaran agung yang mengendap bagai ampas ini.”
“ Setidaknya temaniku berbincang hingga tiada pangkal sekalipun, hingga
waktu menghentikan karena sesuatu hal.” Kataku harap memohon pada gadis bermata
manikam.
“ Baiklah dan terserah, namun jangan paksa aku untuk memeras segenap
otakku untuk mengikuti alurmu. Sekalaunya kumau membedaki pipiku saat ini
jangan pula kau tersinggung dan menganggapku tak hendak memperhatikanmu.”
“ Baik, terima-kasih atas waktumu. Aku hanya ingin mengklarifikasi
kenapa kau mementahkan kehidupanku yang dulu. Kehidupanku saat bisa bersenggama
bebas bersama tuhan.”
“ Aku tidak mementahkanmu dengan pengakuan masa lalumu, meski itu jujur
atau bahkan imajinasi akutmu, aku hanya tahu bahwa kau tiada tahu jenis kelamin
tuhan yang kau kata senggamai tiap waktu.”
“ Justru karena kamu tak tahu, maka kamu tiada bisa mementalkan
kenyataan bahwa tuhan itu wanita yang kusenggamai tiap waktu.”
“ Apa buktinya?”
“ Maksudmu kau minta rekam gambar atau bukti buah cintaku dan dia?”
“ Terserah kamu!”
“ Inilah buktiku, inilah aku.”
“ Apa buah yang kau lakukan setelah bersenggama dengannya?”
“ Buah itu bukan untuk kunikmati, entah saja nanti kau yang nikmati.”
“ Jadi aku harus atau mungkin bisa menikmati buat jadah darimu dan
tuhan?”
“ Mungkin!”
“ Mas, seandainya itu memang benar, dan sebagai konsep teologis yang
kamu sesatkan hingga palung tergelap, ingin kutanyakan : sebagai manusia kamu
hidup dalam dosa dan takkan tertunaikan oleh pahala, dan dalam konsep dua
menjadi satu sebagai manifestasi senggama, maka dosamu adalah dosanya dan kesucianmu
adalah kesuciannya. Maka mungkinkah tuhan menjadi berdosa ketika bersenggama
denganmu?”
“ Bisa jadi begitu dan bisa jadi aku menjadi suci karenanya.”
“ Lalu dimana kesucianmu? Kamu masih berdosa dan memiliki jarum-jarum
kemanusiaan untuk membuncahkan egomu dalam wacana ini, jadi secara tidak
langsung, aku melihat kau masih berdosa selama belum terbebas dengan
kedagingan, maka senggama dengan tuhan tidak menghasilkan transfer kesucian,
maka kesimpulannya, transfermu dosamu yang berhasil, maka…”
“ Maka tuhan telah berdosa karena bersenggama denganku maksudmu?”
“ Kau yang jawab dan menyimpulkan.”
“ Aku tidak menyimpulkan, hanya mengira apa yang menjadi tolak ukurmu.
Baik kau boleh bicara teologis, tapi tuhan bukan dalam kurungan teologis
semata.”
“ Bolehlah kau bicara seperti itu, tapi kau sendiri tahu dan mengenal
tuhan tanda kutip itu dalam kontekstual teologis bukan.”
“ Bisa jadi benar, tapi bisa jadi memang saya tidak tahu sama sekali
atas pernyataan atau pertanyaanmu barusan. Yang kutahu dan kuyakini dan itu
pernah terjadi, aku pernah dan beberapa kali bersenggama dengannya. Orgasme ini
tiada terkira.”
“ Lalu ingin kutanya, pernahkah kau orgasme dengan manusia hingga kau
kata kau pernah orgasme dengan tuhan?”
“ Pernah.”
“ Bagaimana rasanya? Samakah?”
“ Bisa jadi iya.”
“ Bicaralah sistematik dan berdasarkan olah pikir, bagaimana jawabmu,
orgasme semacam apa yang kau alami bersama tuhamu!”
“ Menurutku, orgasme saat aku bersenggama dengan tuhan, aku tak perlu
takut atas segala. Segala akibat setelah itu, dan efek-efek sampingnya dari
sudut manapun, bahkan setelah satu atau sepuluh tahun sekalipun. Aku melakukannya
dengan sadar dan bertanggung jawab pada jalur yang tepat.”
“ Omong kosong, semua sampah!”
“ Apa maksudmu?”
“ Dari tadi kau bicara atas dirimu pada sudut pandang dan kebohonganmu.
Itu khayalanmu!”
“ Hal apa yang membuatmu berpikir seperti itu?”
“ Kau kupastikan belum pernah bersenggama dengan tuhan, kau tidak tahu
perasaan tuhan, itu semua imajiner kedaginganmu, semua tolak ukurnya sesaat.
Kau tak tahu perasaan tuhan. Tuhan itu bukan semalam bercumbu dan lupa. Tuhan
masih cinta sama kamu meski kau pikir tak perlu takut atas segala dan efek
sampingnya. Tuhan itu mengingatmu dan kamu adalah segala buat dia sekalaunya
aku meruntut omonganmu.”
“ Bagaimana kau bisa tahu tuhan berpikir seperti itu, pernahkah kamu
bertemu dengannya?”
“ Entah aku pernah bertemu atau tidak aku akan mencoba mencari tahu,
namun sekalaunya di tempatmu tuhan itu bisa kau ajak senggama secara harafiah,
maka kutahu bahwa tuhan wanita secara normatif. Maka daripada itu, aku sebagai
wanita pun akan mampu memahami perasaan tuhan yang kaunodai itu.”
“ Siapa yang bilang aku menodai.”
“ Ini hanya perlambang, kalau kau tak menodai lalu apa? Suka sama suka?”
“ Ya!”
“ Pernahkan dia berhubungan dengan orang selain kamu?”
“ Entah, mestinya iya, tuhanku sangat baik.”
“ Kalau begitu dia berhubungan dengan banyak orang, perawankah dia?
Digadaikan dimana kesuciannya?”
“ Tuhanku itu kesuciannya tidak bisa dinilai dari keperawanannya.”
“ Lalu kau nilai dari apa? Tuhanmu itu kau akui wanita, entah juga kalau
lelaki berarti kau gay, sekarang anggaplah dia wanita, aku mau tanya; tuhanmu
punya perasaankah?”
“ Tentu saja!”
“ Jadi kaupikir tuhanmu bisa melupakan kamu setelah bersenggama meskipun
sekali bersamamu dalam seumur sisa hidupmu?”
“ Tidak.”
“ Berarti kau harus tarik kata-katamu tadi saat kau ucapkan, bahwa saat
bersenggama dengan tuhan kau tak perlu takut atas segala bahkan efek sampingnya
sekalipun dari sudut manapun, bahkan setelah satu tahun atau sepuluh tahun
sekalipun, dan ditambah kau bilang sadar dan berkomitmen pada jalur yang tepat!
Apa maksudmu itu, tak kaupikirkankah bila setelah kau bersenggama dengan tuhan,
maka dia akan jatuh cinta padamu? Komitmen apa? Tak tahukan efek samping yang
tuhan rasakan setelah berkasih mesra dalam asmara denganmu? Tak kaupikirkankah
perasaannya setelah setahun atau sepuluh tahun kemudian? Kau robot atau
bangsat?”
“ Kenapa kau kebakaran jenggot, kau bukan tuhan!”
“Aku memang bukan tuhan, namun aku wanita, dan kau kata tuhanmu wanita!
Persetan dengan ideologis sesatmu, yang kutahu tuhan itu manifestasi dari
segala, baik wanita atau bukan itu bukan urusanmu, namun ketika kau kata telah
bersenggama dengan tuhan, dari awal sudah kubilang kau pembohong, pendusta
besar!”
“ Kenapa kau justru berapi-api menolak segala pendapat dan kejujuranku!”
“ Aku tidak menolak, seperti komitmen kita pada awalnya, wacana ini
bicara pada ranah pendapatmu hingga pangkal waktu tiba, sekarang tiba waktuku
untuk pulang, aku terlalu lapar jasmaniah, aku mau makan.” Kata gadis cantik
bermata manikam sembari membenahi riasan di pipi dan gerai rambutnya yang
tersibak angin.
“ Boleh kutemani?”
“ Kau hendak melanjutkan ideologi sesatmu?”
“ Tidak, aku ingin mengenalmu lebih jauh, bersenggama denganmu dan
setidaknya aku bisa mengerti arti sebuah komitmen dan perasaan.”
“ Kenapa tidak bersama tuhanmu saja?”
“ Maaf, sesungguhnya itu semua harapanku atas mimpi manunggaling kawula
dan gusti. Kemudian persenggamaan yang kukatakan tadi memang dusta, maka hari ini
aku mencoba membenahi pengertianku bahwa kamu adalah wanita, tuhanpun bisa jadi
wanita, selama aku bersenggama denganmu, berarti aku bersenggama dengan tuhan.
Aku ingin merasakan cinta yang kau katakan!”
“ Sesat pikirmu tiada berubah.”
“ Tolong ajari aku untuk mencintaimu dan mengenal segala efek samping
dari cinta, maka jika cinta itu memang ada, maka disanalah tuhan berada.
Maafkan aku!”
“ Lalu ketika kuturuti ajakanmu maka kamu menemukan tuhanmu?”
“ Bisa jadi. Tapi aku menemukanmu saat ini, dan kamu manifestasi dari
tuhan itu sendiri.”
“ Kalau kau bicara seperti itu, maka kau juga bisa mencari wanita lain
atau bahkan manusia atau segenap semesta ini yang merupakan perwujudan tunggal
kesadaran agung itu sendiri. Kau pikir aku nabi atau tuhan yang mau berkorban
demi egomu, demi pembelajaranmu? Dan ketika kau gagal menemukan tuhan pada
diriku lalu kau campakkan aku bagai puntung rokok?”
“ Tolong bantulah aku, setidaknya sekali ini saja.”
“ Menyedihkan sekali kamu, pintamu itu tak mengenakkan hatiku, tapi aku telah
terlalu menguras energi dan waktuku, kau mengawali dengan dusta dan ego, maka
seperti itu yang kau tanam maka ijinkan aku pulang karena lapar dan aku akan
berdusta juga bahwa kau akan baik-baik saja.”
“ Tolonglah!”
“ Pengemis, pergilah, ketuklah semua gerbang dan carilah, supaya kau
tahu mencari tuhan lebih berat dari mencari uang, maka seperti para
peminta-minta itu yang terpaksa mengemis demi sesuap nasi, maka kau juga perlu
membuang segala harkat dan egomu untuk lebih merendah dari mereka jika kau
hendak bertemu tuhanmu. Aku manusia, dan aku wanita. Aku bukan budak nafsumu.
Maka persetan dengan kamu.”