Demi Orang-Orangan Sawah

June 20th, 2007 by elangpunah

di
terminal kutunggu ibu

tapi
bisnya malu-malu

jadi
kutelpon bapakku

karena
dia yang mbuat aku

 

bapakku
bilang ndak mau repot

karena
ibu sudah reyot

maka
ibuku memilih ngesot

daripada
nyolot

 

sekarang
critanya menunggumu

tapi
pesawat tak mau tahu

jauh
di angkasa biru

susah
menggapaimu

 

karena
kita tahu

transportasi
cinta itu hantu

 

***

 

jam
dinding bandulnya goyang

burungnya
keluar masuk senang

detiknya
riang

kelaminku
girang

 

katakita
selalu bersilangan

bertemu
di pangkal kesepian

selalu
berselisipan

sesaat
bertemu kemudian tertelan

akhirnya
ngandalin iman

 

sedang
kamu tahu iman itu negosiasi

dan
cinta kita penuh harap bukti

maka
percayalah tuhan berbelas hati

 

maka
jika kita kata goyang itu senang

dan
kesepian adalah hati yang tenang

simpulkan
saja kelamin kita telah terkembang

 

semacam
layar kapal

kemana
angin membawamu disitu hatiku telah kapal

 

***

 

jasadmu
telah mati

tadi
siang dikuburkan

tak
mau aku angkat itu jenasah ke liang

karena
aku risih dengan tubuh bekumu

 

kamu
mungkin tak mau tahu

karena
kamu sudah tak mau melihatku

matamu
terkatup, perasaanmu tertutup

bibirmu
muncup-muncup

 

pelarianmu
macam kain kafan bernoda darah

kau
telah lepas panah

hingga
kurapuh bersimpuh di tanah

menunggu
harap yang telah punah

 

sumpah
serapah itu berakhir lelah

penantianku

sungguh

punah

 

hiks
(*mengelap air mata)

 

karena
memang aku ditakdirkan punah

menjadi
nanah

yang
tak mungkin sembuh

walau
saja waktu memungkinkan kita berzinah

 

srott
(*mengelap dari hidung bukan burung)

 

maka
tak sudi aku memanggul dan mendoakanmu

di
liang terakhir itu

ha-ha-ha
sajakku lucu

 

***

 

hai,
mau penak itu gampang

macam
kau cari keramaian

hai,
buat anak itu gampang

asal
vaginanya mau telan

 

tapi
kau tahu yang susah itu apa?

apa?

 

perasaan
yang menyakitkan

ketika
terpisahkan

siap
kesepian demi balasan yang tuhan janjikan

sialan!

 

bersajak
itu gampang kan?

yang
susah itu membuatku mengerti

karena
tidak semua orang sepintar hati

aku
tidak pintar dan tidak berani

maka
aku berpuisi

 

setan
tenan puisi itu, susahnya sekuku tahi!

tapi
banyak yang matihati karena puisi

ironi
sianturi

 

 

***

 

jangan
berlama main diksi

macam
onani

 

kau
itu jago fiksi

dan
berdiam diri

 

main
hati

tak
pegang janji

akibatnya
kita berdua mati

 

bukan
salahmu maupun aku

mungkin
saja ini tuhan punya mau

supaya
kita menjadi batu,

prasasti
bagi susu ibu

yang
selalu muncul di balik bh-mu

matanya
sendu

raut
muka menurun

kok
tiba-tiba main kulum

ya
tuhan, kok jadi saru

padahal
kau tahu sarung itu penutup burung

 

berkirim
pesan

sampai
mati memisahkan

dan
nisan kita berseberangan

siapa
tahu kamboja itu menjadi relawan

buat
cinta kita yang tertawan

 

berkirim
pesan

supaya
bangsa kita tidak hanya lisan

tapi
literatur berbagi umpan

karena
lisan banyak gangguan

 

memang
sama-sama penipuan

tapi
sastrawan mahfum

bahwa
lisan dan dan tulisan

bermuatan
pancasila

 

grief
is messy

from
the ashes we raise

artine
rak ngerti

karena
ngerti hanya untuk sufi

sufi
telah matikan ritual

dan
kita hanya gombal

 

"
Gombal kamu vin!"

"
Tanpa gombal kamu tidak akan ngelap kotoran kan?"

"
He-eh eman-eman, kain bersih kok dikotori."

"
Maka pakailah aku yang kotor, demi bersihkan pahit yang sedang kita telan
pelan2."

"
Syabas untuk perayaan, hapuskan dalam kata, tapi jangan dalam makna yang
kuundang dalam sesak ungkapan.."

"
Ceile…"

TILANG

June 20th, 2007 by elangpunah

Topik hari ini
kita akan berbicara mengenai siasat menghadapi polantas saat dihadang tilang.
Seperti kita tahu, bahwa pemasukan internal institusi kepolisian adalah dari
lantas, semisal menjadi mobil pembuka jalan, pungutan kendaraan angkut yang
akan masuk
kota, dan
terutama tilang. Sebelumnya tulisan ini tidak layak dibaca oleh anda yang
memiliki kriteria sebagai keluarga dari
pejabat kelas tinggi, keluarga militer berpangkat minimal pamen, atau para
keluarga besar institusi polri, tak luput rekan-rekan pewarta.

 

Kita sering mengalaminya dalam kehidupan sehari-hari,
terutama mereka yang memiliki kodrat sebagai
medan magnet
masalah. Begini saja tak perlu berlama-lama, kita akan mengulas dari sudut
pandang sesat dalam menghadapi mereka.

 

Di negara demokrasi pancasila, dimana seharusnya hukum
lebih tinggi dari tuhan—mengingat tuhan ada di dalam pancasila, maka kita
mengerti bahwa semua entitas dari rakyat Indonesia dianggap tidak buta hukum,
maka ketika berhadapan dengan tilang, maka ini adalah tahap-tahap yang harus
anda lalui.

 

  1. bersikaplah tenang, seperti anda seorang preman.
  2. berilah kesempatan bagi mereka untuk memberi hormat, dan jangan terlalu berlebihan hingga kamu ikut membalas hormat mereka, cukup anggukkan kepala, atau lengoskan kepala anda ke kanan supaya dianggap berjiwa pancasila.
  3. seperti kita tahu, selalu selipkan uang di stnk, atau tempat kunci untuk
    jaga-jaga, segeralah minta maaf dan pergi dengan mengajak bersalaman yang telah terselip uang. Ingat ini bukan suap yang akan terkena denda 20 juta
    sesuai pasal kuhp. Ini adalah negosiasi penuh arti! Ubah mindset anda. Anda tahu kita terlalu sibuk hanya untuk berdebat kusir.
  4. apabila waktu dan tempat tidak memungkinkan, maka biasanya kita diajak ke pos si subyek. Usahakan suasana pos sepi ,karena biasanya, pos polisi semacam kafe, banyak orang nongkrong berseragam. Sambil bicara perlahan segera sisipkan uang tadi dengan segala permohonan maaf sembari berjanji tidak akan mengulangi. Bila dia minta lebih untuk tilang titipan, tawarlah
    seikhlas dan semampu anda. Jangan gengsi, karena gengsi demi beli
    handphone dan laptop bermerek lebih aksi daripada gengsi minta tolong di  depan pak polantas. Dan ingat, jangan sekali-kali ungkit kalau anda melihat polisi yang naik motor motong jalan, motong marka, ngelanggar lampu lintas. Karena mereka polisi. Dan secara hukum ketika polisi memberikan wewarah di jalan raya maka rambu-rambu lalu lintas menjadi hilang makna.
  5. ada tiga slip apabila anda kalah tawar menawar. Merah biru kuning. Semua  berseri seperti nota di toko saya, untuk mencegah polisi-nakal tidak
    membayar ke komandan, sekalipun salah, karcisnya harus mereka streples. Sekarang sebelum memulai lebih jauh ingat satu hal, anda harus memilih jalan hidup.
    Sebagai idealis, idealis semu, atau pragmatis. Begini, pragmatis adalah bila anda akan bayar berapapun polantas minta untuk tilang titipan, dan idealis semu itu berpura-pura tidak akan main belakang dan titip tilang, melainkan akan mengambil sendiri ( sim, stnk, kendaraan ) di poltabes. Disinyalir perilaku ini karena tidak memiliki cukup uang ( kasihan ) dan ini cukup kita selesaikan dengan meminta slip warna biru.
  6. tapi disini sebagai idealis pengangguran, maka saya akan lebih membahas  mengenai slip merah. Setelah tawar menawar usai, katakan saja kalau anda akan memilih sidang di pengadilan tinggi negeri apabila polantas tersebut
    tidak mau menerima tawaran anda untuk berdamai ( cita-cita luhur ), maka biasanya polantas tersebut akan gemetar saat menulis di
    surat tilang. Itu bisa terjadi karena pendapatannya tidak sesuai harapan, atau karena dia mesti menghadiri sidang yang berarti minta ijin atasan dan kehilangan waktu, sedang waktu itu adalah tilang. Maka setelah dia cukup gemetar dan kita puas, biasanya dia akan menyodorkan surat tilang itu untuk kita beri tanda tangan. JANGAN MAU! Karena akibatnya fatal, secara hukum anda telah mengakui kesalahan anda, dan si polantas merasa tak perlu datang sidang, dan biasanya sengeyel apapun kita di depan hakim, secara hukum kita tetap lemah, kecuali ada saksi mengatakan kita tanda tangan di bawah tekanan. Hal ini yang sering kita temui di pengadilan. Maka jangan tanda tangan, kepalkan tangan sembari beri senyum mengembang, “ Sampai jumpa di pengadilan tuan!”
  7. sebelum ke pengadilan jangan lupa sarapan karena kadang penuh antrian, kalau bosen, keluar ngerokok juga boleh, karena pengadilan di Indonesia sangat kekeluargaan, selain sebagai proses pembelajaran supaya kita menjadi tidak terlalu buta hukum, disana nanti anda bertemu si polantasnya yang
    berkeringat dingin melihat anda membawa saksi yang bukan keluarga ( tidak bawa saksi juga tiada apa, mereka meluangkan waktu ke pengadilan sudah oke-kan?)
  8. jangan khawatir denda di pengadilan lebih tinggi, nilai denda sesuai pasal yang tertera. paling ada uang administrasi 11.000. selain itu kita juga tak perlu takut polisi naik banding kalau kita memang benar-benar kalah dalam sidang yang agung, kurang kerjaan apa mereka. Dalam delik pencemaran nama baik?
  9. anda kalau memang berniat berlebihan, bawalah pengacara dan saksi
    sebanyak-banyaknya. Tapi kalau mau iseng demi membalas dendam yang
    menggumpal, datang saja sendirian, dan belajarlah ngeyel, yang penting
    polantas itu berkeringat di kursi sidang. Itu kalau anda memang dasarnya
    rewel.
  10. tapi apapun juga itu perlu dan penting, buat kita dan mereka. Selain itu, sebagai pengangguran penuh waktu luang, kita tetap up to date belajar dan upgrade pengalaman Ndak terus di rumah cuma kelon atau nyalon.

 

 

Begitulah sedikit yang bisa saya tawarkan dalam tips
dan trik kali ini, namun kepelikan dunia
yang sesungguhnya adalah apa beda policeman
and politian
? Bedanya sangat jelas tergantung kita berada dimana dan sebagai
apanya.

 

motto tiptrik : berbagilah sebelum kamu mati

Tiada Ngana

June 11th, 2007 by elangpunah

daguku tersangkut
njelungup menatap kaca
dan menyadari satu hal
asmara dan anggur itu sama

meronakan pipi-mengaburkan mata
melayang-layang limbung
terekam, diputar ulang
mual dan ingin muntah

pilih satu jadi tentara,
pralaya penuh laga
pilih duanya laik malapetaka,
baunya tak ubah rana

Lelumban (anggur) ing samuderaning asmara

***

kelaminku terkilir
salah jalan atau salah daleman
dan menyadari satu hal
nafsu dan asu itu sama

dielus ekornya goyang,
kalau puas tersenyum senang
telat dikit berlolongan
selalu merasa kurang,
nama tengahnya bosanan
benci dikandang
kelamaan jadi jalang
kalau diikat matanya nerawang dan
minta ja(j/l)an

sama-sama suka;
makan
perhatian
waktu
uang

sama-sama penyakitan;
pilih asu kutuan,
pilih nafsu kutukan

bedanya;
anjing menuntun tuna netra,
nafsu membutakan jiwa

***

mataku keculek reklame seksi
capek pasang gengsi
tuai gaya aksi

diajari menghafal
duit itu money
buku itu book
jangan bodohi kami
nanti ndak anarki
soalnya kami tahu
bahwa love is you
dan cinta itu mati

pasar ilang kumandange,
kali ilang kedunge

gelang sipatu gelang
bapak ilang kejepit lawang
mari ngutang-marilah ngutang-marilah ngutang
(ka)nggo tuku kutang

***

asam lambungku melompat riang
kecut-kecut tiada karuan
dibubuhi teh jadi lemon tea
dibuai madu jadi honey lemon tea
kalau masih ada sisa,
kucurkan pada soto sapi
kalau masih kurang beri sambal trasi
sikecut emosi, Cuh!

rencana saya tidak kecil-kecilan
produksi besar-besaran
karuan kan?

sigaret dan anggur di disiapkan
kalau bisa tak usah bawa teman
tenggak dengan yakin
tidur selama mungkin

kalau cukup,
investasikan pada cuka,
biar duka ada tempatnya,
dan suka jadi labelnya

distribusi dijalankan
siapkan kain
capnya kafan
asam lambung baru permulaan
sampai jumpa kawan-kawan

Kehormatan

June 6th, 2007 by elangpunah

Semacam tentara yang mengangkat lengan

Atau orang tua dengan segala doktrin

Apa yang perlu dipertahankan

Dari rasa malu atau ketakutan

Dimana ujungnya dan untuk siapa diberikan

Pada mereka yang terhormat

Atau pada kita yang gila hormat

 

Saya mengorek sampah dikata tak terhormat

Mengorek kuping dikata tak terhormat

Dimana letak tak terhormat

Pada letak atau saat

 

Kehormatan itu demi siapa

Demi saya tentunya

Maka terhormatkah saya bila anda tukang gali kubur

 

Saya berbeda

Terhormatkah saya

Saya sama

Terhormatkah saya

 

Kolektif dan berlombakah

Bekejar-kejaran

Pada pangkal yang tidak pada babon

Pada kata bahwa kehormatan adalah pencapaian

 

Pencapaian itu capai

Berkenankah untuk lunglai

Demi hidup yang tiada akan pernah sampai

 

Lalu dimana saya pada saat semua memberi hormat

Maka saya ikut-ikutan

Pada sosok, orang atau kepentingan

Dengan catatan saya akan di posisi mereka kapan

Menyedihkan

 

Bisa saja saya berkata tiada butuh kehormatan

Itu bisa jadi bohong

Apa guna hidup tanpa kehormatan

Seperti raja tanpa mahkota

Duri sekalipun itu bukan penghinaan

 

Penghormatan

Semacam upacara hari senin

Keterpaksaan

 

Namun seandainya kita yang dihormati

Apakah itu

Kebahagiaan bahkan pengagungankah

 

Bagaimana kita bisa bicara hormat menghormat

Tidak tahu pengorbanan

Tidak tahu perjalanan

Berarti kita harus mencari tahu

Setelah tahu

Bisakah kita tulus memberi hormat atas pengorbanan

Dan apakah setelah kita menghormati

Kita menjadi terhormat

 

Anugerahkah

Musibahkah

 

Mengejar dan dikejar demi terhormat

Perlombaankah

Atau mungkin bisa kita hapus dari kamus dan kehidupan

 

Kehormatan

Itu semacam pantat

Menggemaskan

Kalau ditepuk bisa balik menggebuk

Kalau diremas bisa buat orang lain panas

Kalau digigit bisa membekas

Padahal itu lemak dan bukan daging

Padahal lemak itu kolesterol dan perlu dibuang seperlunya

 

Perlukah kehormatan itu dibuang

Dibungkam

Bisa jadi apa kita orang

Tidak terhormat

Tak punya susila

Dihindari sebagai kusta

Lepas dan terjatuh dengan sendirinya

 

Lalu apakah itu kehormatan

Semacam dendam mengeram

Yang mesti terbalaskan

Sebuah jalan dan pengakuan

Turun temurun

Meresap dalam tanpa ujung

Dari dulu sampai sekarang

Atas kata sebuah ketidaklajelan

 

Kehormatan

Bisa jadi kerendah hatian

Bisa jadi penuh kasih dan perasaan

Bisa jadi pengorbanan

Biasa jadi kemenangan

Biasa jadi kepentingan

 

Lalu apa itu kehormatan

Waktu bukan penilaian

Karena ini pencapaian

Sebuah kebanggaan

Halusinasi

Hasrat

Emosi

Semangat

 

Saya salah dan mengakuinya

Bertanggung jawab

Kehormatankah

Walau meskipun kesumat membara

 

Saya benar dan mensyukurinya

Kehormatankah

Meskipun relatif adanya

 

108 ataupun halaman kuning tiada artinya

Mesin pencari dan kamus besar tanpa makna

Dimana-mana

Dimini-mini

Dimene-mene

Dimunu-munu

Dimono-mono

Semua huruf hidup menjadi mati

Tanpa arti

 

Yang hidup menjadi mati karena kehormatan

Yang mati menjadi hidup karena kehormatan

 

Berpulang pada hidup atau menatap mati

Hari ini atau esok hari

Derita ini atau bahagia nanti

Bahagia ini atau derita esok hari

Bisakah keduanya

Bukan saya juga jurinya

Bahasa SOP-nya berat dimamah

Lalu buta warna melihat kartu merah

Tetap berlaga sesukanya

Hingga polisi tiba

 

Tulung mak-e

Apa itu kehormatan sekalinya saya tidak menghormati mak-e

Menjadi durhaka tiada ketulungan

Mak-e tidak saya hormati

Padahal mak-e orang terhormat karena lahirin tole

Bisa jadi mak-e salah didik tole

Tapi mak-e tetap terhormat sebagai ibune tole

Tapi kenapa mak-e menjadi tidak terhormat

Perlukah setelah durhaka si tole ini memberi salam hormat

Lalu secara singkat mak-e menjadi terhormat

 

Kenapa saya semakin tidak kalap

Tidak bisa menjawab apa-apa juga

Atau bisa jadi setahu saya karena saya semakin berisi

Tapi isinya apa

Kompong

Growong

Kempes

 

Lalu menjadi bekatul

Dan terhormatkah ditotoli anak ayam

Lalu dimakan manusia

Lalu dikeluarkan di blumbang

 

Gabah-gabah

Terhormatkah menjadi gabah

Bisa jadi kalau isinya beras

Lha kalau dimakan hama

Melompong

Kedondong brondong

Ngomong kosong

 

Dimana kehormatan saya

Pernah hilang atau memang tiada

Lha njuk kalau saya pengen terhormat

Maka saya jadi bendera

Benda mati

Manifestasi

 

Kehormatan adalah manifestasikah

Dari apa

Kembali ke asal mula tentunya

Malas aja

 

Terus cari

Jangan malas

Nanti ketemu

Sampai kapan

 

Praktek dong

Teorinya saja bengong

Teroris lebih come on

 

Praktek melahirkan teori

Teori menguatkan praktek

Doktrin menyatukan

 

Doktrin saya adalah kehormatan

Teori saya adalah kaing-kaing

Prakteknya ngising!

 

 

 

Senggama

June 6th, 2007 by elangpunah

Setelah satu bulan aku berjalan-jalan di tempat ini, semakin kusadari
bahwa demologis wilayah ini berbeda curam dengan tempat dimana aku dibesarkan.
Sebuah disparitas kentara dan tak bisa kuadaptasi. Sebuah wilayah dimana segala
sesuatu menjadi sesuatu, dan sebuah kesungguhan tak ubah pengebirian norma.
Wilayah kosong tidak diantara hitam ataupun putih.

 

Sebuah wacana yang akhirnya menggelinding semakin besar dan
menghancurkan; baik atas pemahamanku atas sebuah kebiasaan maupun pengertiannya
atas wilayah normatif yang ada dan telah ada.

 

“ Mbak, sudah kukatakan ini bukan masalah namun hanya pengertian, maka
tak perlu kau menengokkan kepalamu sebagai pertanda bahwa aku najis yang bisa
dihindari.” Kataku saat itu setelah pelontaran sebuah kata tak tentu arah.
Sebuah kata yang menyadarkanku bahwa mungkin saja aku terbangun pada mimpi yang
salah.

 

“ Mas, sudah kubilang, aku tidak hendak dan mau memperbincangkan debat
kusir berkepanjangan denganmu. Itu masalahmu dan tak perlu kau sangkut-pautkan
denganku. Untuk kau mengerti aku tidak berkenan untuk turut serta dalam karut
marut masalah yang tanam sendiri.”

 

“ Aku tidak mempermasalahkan bila kau memang memiliki kehendak untuk
enggan bercakap-cakap, namun mengertilah; ini sebuah kesinambungan dan bukan
tanpa sebab sekalaunya aku dan kamu bertemu dan melaju semakin cepat.”

 

“ Ini bukan permasalahan itu, dan juga bukan permasalahan aku
mendiskusikan sebuah pilihan yang absurd dan tak nyata.”

 

“ Lho, kau tahu itu absurd, kenapa tak kau telusuri untuk mencari titik
temu, setidaknya sebuah petualangan batin?”

 

“ Aku enggan dan tiada hendak punya niat, aku sudah cukup kelam dan
pekat, tak perlulah kau buyarkan itu dalam persepsimu, semua kembali ke pilihan
batinku atas kesadaran agung yang mengendap bagai ampas ini.”

 

“ Setidaknya temaniku berbincang hingga tiada pangkal sekalipun, hingga
waktu menghentikan karena sesuatu hal.” Kataku harap memohon pada gadis bermata
manikam.

 

“ Baiklah dan terserah, namun jangan paksa aku untuk memeras segenap
otakku untuk mengikuti alurmu. Sekalaunya kumau membedaki pipiku saat ini
jangan pula kau tersinggung dan menganggapku tak hendak memperhatikanmu.”

 

“ Baik, terima-kasih atas waktumu. Aku hanya ingin mengklarifikasi
kenapa kau mementahkan kehidupanku yang dulu. Kehidupanku saat bisa bersenggama
bebas bersama tuhan.”

 

“ Aku tidak mementahkanmu dengan pengakuan masa lalumu, meski itu jujur
atau bahkan imajinasi akutmu, aku hanya tahu bahwa kau tiada tahu jenis kelamin
tuhan yang kau kata senggamai tiap waktu.”

 

“ Justru karena kamu tak tahu, maka kamu tiada bisa mementalkan
kenyataan bahwa tuhan itu wanita yang kusenggamai tiap waktu.”

 

“ Apa buktinya?”

 

“ Maksudmu kau minta rekam gambar atau bukti buah cintaku dan dia?”

 

“ Terserah kamu!”

 

“ Inilah buktiku, inilah aku.”

 

“ Apa buah yang kau lakukan setelah bersenggama dengannya?”

 

“ Buah itu bukan untuk kunikmati, entah saja nanti kau yang nikmati.”

 

“ Jadi aku harus atau mungkin bisa menikmati buat jadah darimu dan
tuhan?”

 

“ Mungkin!”

 

“ Mas, seandainya itu memang benar, dan sebagai konsep teologis yang
kamu sesatkan hingga palung tergelap, ingin kutanyakan : sebagai manusia kamu
hidup dalam dosa dan takkan tertunaikan oleh pahala, dan dalam konsep dua
menjadi satu sebagai manifestasi senggama, maka dosamu adalah dosanya dan kesucianmu
adalah kesuciannya. Maka mungkinkah tuhan menjadi berdosa ketika bersenggama
denganmu?”

 

“ Bisa jadi begitu dan bisa jadi aku menjadi suci karenanya.”

 

“ Lalu dimana kesucianmu? Kamu masih berdosa dan memiliki jarum-jarum
kemanusiaan untuk membuncahkan egomu dalam wacana ini, jadi secara tidak
langsung, aku melihat kau masih berdosa selama belum terbebas dengan
kedagingan, maka senggama dengan tuhan tidak menghasilkan transfer kesucian,
maka kesimpulannya, transfermu dosamu yang berhasil, maka…”

 

“ Maka tuhan telah berdosa karena bersenggama denganku maksudmu?”

 

“ Kau yang jawab dan menyimpulkan.”

 

“ Aku tidak menyimpulkan, hanya mengira apa yang menjadi tolak ukurmu.
Baik kau boleh bicara teologis, tapi tuhan bukan dalam kurungan teologis
semata.”

 

“ Bolehlah kau bicara seperti itu, tapi kau sendiri tahu dan mengenal
tuhan tanda kutip itu dalam kontekstual teologis bukan.”

 

“ Bisa jadi benar, tapi bisa jadi memang saya tidak tahu sama sekali
atas pernyataan atau pertanyaanmu barusan. Yang kutahu dan kuyakini dan itu
pernah terjadi, aku pernah dan beberapa kali bersenggama dengannya. Orgasme ini
tiada terkira.”

 

“ Lalu ingin kutanya, pernahkah kau orgasme dengan manusia hingga kau
kata kau pernah orgasme dengan tuhan?”

 

“ Pernah.”

 

“ Bagaimana rasanya? Samakah?”

 

“ Bisa jadi iya.”

 

“ Bicaralah sistematik dan berdasarkan olah pikir, bagaimana jawabmu,
orgasme semacam apa yang kau alami bersama tuhamu!”

 

“ Menurutku, orgasme saat aku bersenggama dengan tuhan, aku tak perlu
takut atas segala. Segala akibat setelah itu, dan efek-efek sampingnya dari
sudut manapun, bahkan setelah satu atau sepuluh tahun sekalipun. Aku melakukannya
dengan sadar dan bertanggung jawab pada jalur yang tepat.”

 

“ Omong kosong, semua sampah!”

 

“ Apa maksudmu?”

 

“ Dari tadi kau bicara atas dirimu pada sudut pandang dan kebohonganmu.
Itu khayalanmu!”

 

“ Hal apa yang membuatmu berpikir seperti itu?”

 

“ Kau kupastikan belum pernah bersenggama dengan tuhan, kau tidak tahu
perasaan tuhan, itu semua imajiner kedaginganmu, semua tolak ukurnya sesaat.
Kau tak tahu perasaan tuhan. Tuhan itu bukan semalam bercumbu dan lupa. Tuhan
masih cinta sama kamu meski kau pikir tak perlu takut atas segala dan efek
sampingnya. Tuhan itu mengingatmu dan kamu adalah segala buat dia sekalaunya
aku meruntut omonganmu.”

 

“ Bagaimana kau bisa tahu tuhan berpikir seperti itu, pernahkah kamu
bertemu dengannya?”

 

“ Entah aku pernah bertemu atau tidak aku akan mencoba mencari tahu,
namun sekalaunya di tempatmu tuhan itu bisa kau ajak senggama secara harafiah,
maka kutahu bahwa tuhan wanita secara normatif. Maka daripada itu, aku sebagai
wanita pun akan mampu memahami perasaan tuhan yang kaunodai itu.”

 

 

“ Siapa yang bilang aku menodai.”

 

“ Ini hanya perlambang, kalau kau tak menodai lalu apa? Suka sama suka?”

 

“ Ya!”

 

“ Pernahkan dia berhubungan dengan orang selain kamu?”

 

“ Entah, mestinya iya, tuhanku sangat baik.”

 

“ Kalau begitu dia berhubungan dengan banyak orang, perawankah dia?
Digadaikan dimana kesuciannya?”

 

“ Tuhanku itu kesuciannya tidak bisa dinilai dari keperawanannya.”

 

“ Lalu kau nilai dari apa? Tuhanmu itu kau akui wanita, entah juga kalau
lelaki berarti kau gay, sekarang anggaplah dia wanita, aku mau tanya; tuhanmu
punya perasaankah?”

 

“ Tentu saja!”

 

“ Jadi kaupikir tuhanmu bisa melupakan kamu setelah bersenggama meskipun
sekali bersamamu dalam seumur sisa hidupmu?”

 

“ Tidak.”

 

“ Berarti kau harus tarik kata-katamu tadi saat kau ucapkan, bahwa saat
bersenggama dengan tuhan kau tak perlu takut atas segala bahkan efek sampingnya
sekalipun dari sudut manapun, bahkan setelah satu tahun atau sepuluh tahun
sekalipun, dan ditambah kau bilang sadar dan berkomitmen pada jalur yang tepat!
Apa maksudmu itu, tak kaupikirkankah bila setelah kau bersenggama dengan tuhan,
maka dia akan jatuh cinta padamu? Komitmen apa? Tak tahukan efek samping yang
tuhan rasakan setelah berkasih mesra dalam asmara denganmu? Tak kaupikirkankah
perasaannya setelah setahun atau sepuluh tahun kemudian? Kau robot atau
bangsat?”

 

“ Kenapa kau kebakaran jenggot, kau bukan tuhan!”

 

“Aku memang bukan tuhan, namun aku wanita, dan kau kata tuhanmu wanita!
Persetan dengan ideologis sesatmu, yang kutahu tuhan itu manifestasi dari
segala, baik wanita atau bukan itu bukan urusanmu, namun ketika kau kata telah
bersenggama dengan tuhan, dari awal sudah kubilang kau pembohong, pendusta
besar!”

 

“ Kenapa kau justru berapi-api menolak segala pendapat dan kejujuranku!”

 

“ Aku tidak menolak, seperti komitmen kita pada awalnya, wacana ini
bicara pada ranah pendapatmu hingga pangkal waktu tiba, sekarang tiba waktuku
untuk pulang, aku terlalu lapar jasmaniah, aku mau makan.” Kata gadis cantik
bermata manikam sembari membenahi riasan di pipi dan gerai rambutnya yang
tersibak angin.

 

“ Boleh kutemani?”

 

“ Kau hendak melanjutkan ideologi sesatmu?”

 

“ Tidak, aku ingin mengenalmu lebih jauh, bersenggama denganmu dan
setidaknya aku bisa mengerti arti sebuah komitmen dan perasaan.”

 

“ Kenapa tidak bersama tuhanmu saja?”

 

“ Maaf, sesungguhnya itu semua harapanku atas mimpi manunggaling kawula
dan gusti. Kemudian persenggamaan yang kukatakan tadi memang dusta, maka hari ini
aku mencoba membenahi pengertianku bahwa kamu adalah wanita, tuhanpun bisa jadi
wanita, selama aku bersenggama denganmu, berarti aku bersenggama dengan tuhan.
Aku ingin merasakan cinta yang kau katakan!”

 

“ Sesat pikirmu tiada berubah.”

 

“ Tolong ajari aku untuk mencintaimu dan mengenal segala efek samping
dari cinta, maka jika cinta itu memang ada, maka disanalah tuhan berada.
Maafkan aku!”

 

“ Lalu ketika kuturuti ajakanmu maka kamu menemukan tuhanmu?”

 

“ Bisa jadi. Tapi aku menemukanmu saat ini, dan kamu manifestasi dari
tuhan itu sendiri.”

 

“ Kalau kau bicara seperti itu, maka kau juga bisa mencari wanita lain
atau bahkan manusia atau segenap semesta ini yang merupakan perwujudan tunggal
kesadaran agung itu sendiri. Kau pikir aku nabi atau tuhan yang mau berkorban
demi egomu, demi pembelajaranmu? Dan ketika kau gagal menemukan tuhan pada
diriku lalu kau campakkan aku bagai puntung rokok?”

 

“ Tolong bantulah aku, setidaknya sekali ini saja.”

 

“ Menyedihkan sekali kamu, pintamu itu tak mengenakkan hatiku, tapi aku telah
terlalu menguras energi dan waktuku, kau mengawali dengan dusta dan ego, maka
seperti itu yang kau tanam maka ijinkan aku pulang karena lapar dan aku akan
berdusta juga bahwa kau akan baik-baik saja.”

 

“ Tolonglah!”

 

“ Pengemis, pergilah, ketuklah semua gerbang dan carilah, supaya kau
tahu mencari tuhan lebih berat dari mencari uang, maka seperti para
peminta-minta itu yang terpaksa mengemis demi sesuap nasi, maka kau juga perlu
membuang segala harkat dan egomu untuk lebih merendah dari mereka jika kau
hendak bertemu tuhanmu. Aku manusia, dan aku wanita. Aku bukan budak nafsumu.
Maka persetan dengan kamu.”


 

 

 

Tandas Dinda?

May 29th, 2007 by elangpunah

 

Aduh, terlalu berkarat ya, sesampainya kau berkata kandas. Dinda,
tahukah kandas itu berarti bersitatap dengan karang atau gunung es. Dan ini
bukan masalah gunung es, kita bicara karang. Dan kamu tahu karang itu identik
dengan pulau. Dan disinilah mahligai kita terkapar dalam pulau kesepian, hanya
kamu dan aku, dan hanya kamu dan aku. Berdua. Memulai!

 

Takutkah kamu? Itukah cinta ketika kamu berkata tidak? Aduh dinda, saya
takut tiada terkira, kira-kira saya mau pingsan. Berdua setengah mati memulai
dari awal. Dinda!

 

Dinda, nanti kalau kamu hamil dan melahirkan dan berada di pulau sekecil
ini, apa kata dunia, siapa yang bantu persalinanmu, siapa yang mesti potong
tali pusar anak kita. Masyaoloh! Ya dinda, di pulau terpencil ini modal kita
bukan cinta lagi, tapi keadaan. Tiada susu balita, tiada sekolah, tiada mertua
maupun gereja. Mau dibawa kemana anak kita, setahuku kondom itu susah dibuat
dan susah enaknya. Aih eli eli lama sabakhtani ha-ha-ha! Where is God then..

 

Bagaimana kubisa hidup kalau begini, bukan hidup itu, tapi hidup tanda
petik. Mungkinkah aku gali sumur sampai kedalaman
lima meter? Mungkin!

 

Tapi kau tahu aku harus bergerilya memburu burung-burung di pokok kelapa
demi hasrat ngidam-mu, masyaoloh, bisa stroke saya, sekiranya masturbasi nurani
lebih dari cukup. Aih, susah banget ya jeng, kalau kita terikat. Ndak ada
kejelasan, saya mesti berburu dan meramu. Meramu jamu supaya banyak anak terus
bantu papanya berburu ha-ha-ha membayangkan saja saya bisa tertawa hingga kulit
saya membiru.

 

Tapi itu kan cinta, mau di pulau terpencil kita mesti cinta kan? Lha mau tak cinta gimana, hanya kamu dan aku.

 

Ha-ha-ha, ini karya yang sungguh menggembirakan,saya baru tahu cinta
disini. Mana mungkin saya memimpikan cinta-cinta semu saya kalau hidup bersama
dengan anda pada sebuah pulau tanpa koneksi. Hanya kamu dan aku dan tahulah
tiada mungkin aku pertaruhkan dirimu dengan menebang batang pohon menjadi
rakit.

 

“ Aku mau mas, mati sama kamu di rakit itu.”

 

“ Ha-ha-ha tak mungkinlah, kalau aku mati kamu mati tenggelam, kita juga
buta arah dan bukan sebuah kisah yang diyakini berakhir bahagia. Mengingat
pusar anakmu telah kupotong dengan pelepah kelapa. Kamu disini saja, dan
biarkan aku berlayar, atau kamu dan aku disini saja?”

 

“ Mas, Karena cintaku kubiarkan kau arungi samudera.”

 

“ Untuk apa?”

 

“ Supaya aku menjadi alkisah.”

 

“ Semacam kitab suci.”

 

“ Ah, memang kau terlalu pahit dengan dogmatika agama.”

 

“ Lalu apa maumu.”

 

“ Menjadikan aku sejarah pengingatmu ketika kau mati.”

 

“ Kau bilang aku mati?”

 

“ Yang terburuk mungkinkan?”

 

“ Lalu apa gunanya buatmu dinda?”

 

“ Aku tidak butuh kegunaan, aku bukan alat, aku hanya butuh pertaruhan.”

 

“ Pertaruhan tanpa kepastian?”

 

“ Kepastian untuk bertaruh!”

 

“ Maksudmu?”

 

“ Semua inilah kupertaruhkan untukmu; anak kita, masa depan kita, dan
selanjutnya, Karena aku percaya kepadamu.”

 

“ Meskipun gagal?”

 

“ Ya, dan karena itu aku mengaramkan diriku padamu.”

 

“ What’s? what a sick you are!”

 

“ That’snt sick, that’s because im trust of you!”

 

“ Maksudmu?”

 

“ Aku akan menjelaskan apa yang tak kamu tahu. Itulah cinta?”

 

“ Aih jaman gini bicara cinta, basi.”

 

***

 

Itulah berulang kali, dan kutinggalkan istri dan keturunanku di sebuah
pulau terpencil, dengan segala kemodernan kucari mereka dan tidak kudapatkan.
Sebuah pulau yang terhilang. Sebuah pulau yang tiada kutemukan. Sebuah janji
yang tak kutepati. Aku merana dalam sepi. Aku telah pergi dengan rakit dari
batang demi batang kelapa dan layar anyaman nyiur nan dirangkai istriku sembari
menyusui buah hatiku. Aih, persetan dengan itu aku juga tidak menemukan
keberadaan mereka. Merana, sepi dan hampa.

 

Dan kutahu itu cinta. Cinta itu kesempurnaan kepercayaan, penyerahan.
Cinta itu kutemukan ketika aku mengetahui bahwa aku tiada bisa membalas
kepercayaan. Jadi cinta itu sebatas kepercayaan tanpa imbal balik. Cinta itu
kepercayaankah? Ketika aku tidak memegang itu, apakah istri dan anakku masih
mencintaiku di pulau sesat itu? Dan aku semakin menderita hingga akhir ajalku
saat tak menemukannya? Betapa menderitanya aku tak bisa membalas kepercayaan.
Betapa tak bermaknanya aku ketika saat nanti kutahu mereka masih mencintaku
meski tak juga kunjung sampai kumenemukan sebuah esensi dari cinta sendiri.

 

Lalu apa itu cinta, dan perlukah aku mencari tahu?

 

Aku tidak tahu. Apa itu cinta, sebatas lima kata tak bermakna dan menyiksa manusia. Cintakah itu
bila memaksa untuk memiliki dan memintaku untuk kembali sekalaunya aku tahu di
pulau itu, mereka mengharap kukembali? Hanya percaya hingga akhir nanti,
semacam godot tiada arti.?

 

Lalu memilihkah aku untuk tak kembali pada cinta?

 

“ Owh, owh, jangan begitu bung, kamu mau tahu cinta atau tidak persetan
dengan itu, kamu hanya harus mencari pulau dimana kepercayaan itu ditambatkan.”

 

“ Aih-aih menyiksanya mejadi manusia.”

 

“ Lho memangnya kamu manusia.”

 

“ Ya saya manusia.”

 

“ Apa buktinya?”

 

“ Saya bernafas bahagia dan menderita.”

 

“ Lalu kenapa kamu menyangsikan cinta sebagai sumber bahagia dan
derita.”

 

“ That’s different!”

“ No, that’s human!”

 

“ Lalu jawablah apa itu cinta.”

 

“ Jawablah juga apa itu manusia!”

 

“ Itu kutukan?”

 

“ Kalau begitu kasihan sekali kamu!”

 

“ Aku tiada butuh belas kasih!”

 

“ Kau yang bicara, maka kau juga tiada butuh cinta ‘kan

 

“ Aku butuh, itu beda kan ?”

 

“ Carilah esensimu sebagai manusia dan kau akan menemukan cinta.”

 

“ Sebagai teknologi.”

 

“ Bebal sekali kau kawan silahkan berwacana hingga merana.”

 

“ Kau mengatakanku bebal, telahkah kau menemukan cinta?”

 

“ Subyektifitasku sudah dan aku bahagia untuk itu.”

 

“ Bullshit!”

 

“ Carilah dulu kerajaan allah, ketuklah!”

 

“ Kau mau zending aku?”

 

“ Kaku sekali kamu, males aku jelasin padamu.”

 

“ Ya sudah kalau tiada mau, maka aku akan obrak abrik kerajaan surgamu!”

 

“ Mampukah kamu? Apapun juga, kamu  akan menderita dan itulah nerakamu.”

 

“ Nerakaku adalah tanpa jawab darimu.”

 

“ Ya itulah; tanpa jawab itulah neraka!”

 

“ Kau minta aku pasrah dan mengimani?”

 

“ Terserah!”

 

***

 

Tamat ‘kan? Mau berwacana apa lagi aku, mati saja aku. Kapan aku bisa menjadi
bajak laut? Kapan aku bisa menjadi penguasa atas diriku yang bisa perkosa
sana-sini dan juga kutaktahu punya keturunan disana-sini? Aih, mau dikasih
makan apa sih jiwa ini? Kasihan sungguh kasihan!

 

Kasihan aku! Tapi tolong jangan dikasihani, ‘kan kasihan aku! Eh-eh kamu juga perlu dikasihani,
tahukah kamu apa itu cinta?

 

 


 

 

Dari Ajal Hingga Nurani

May 29th, 2007 by elangpunah

Betlehem barat
yordan

Betelgusa rasi orion

 

Umpama agama
perkawinan

Maka kumuak
dipermainkan

 

Hosti terkulum ubah
catatan

Jam terkungkung
macam tasyakuran

Demi pakaian iman
kupertaruhkan

Asmara

takdir dimasturbasikan.

 

***

 

Kami budak juga
pampasan

Dilahirkan demi
kutukan

 

Sang raja dikastraksi

Asura menjadi humani

Rakyatnya kepiting
sok aksi

Aih merayap tak
berarti

 

***

 

Namanya negosiasi

Tiga bulan tak
berarti

Biar saja rajutan
bergembira

Akhirnya setan
tertawa

 

Demi seribu nabi

Atraksi tiap hari

Demi tahu siapa sang
rabbi

 

***

 

Cinta itu tahi

Kitab suci penuh
janji

Deuterokanonika
meriam tak berarti

Bisa juga sufi

 

Sekarang mati

Ajal hidup lagi

 

Bercinta hingga
akhirat

Tak mau terikat

Hidup bukan masalah
simpul

Badander menjadi saksi

Belfast

bukti aku tak bisa dibeli

 

***

 

Soemohardjo pergi
dari sepi

Panggilan nurani

Garis tangannya
sejati

Kulihat cermin,
garisku mati

Menggigil

Khawatir jadi
prasasti

 

Soedirman terbatuk
hampir mati

Hamba mengantuk
mencari arti

Ungkap sesanti tak berjatidiri

Bisa jadi

Hamba terlalu
mencari arti

Tak berimani

Demi jiwa sejati

 

Tahi

Jadi bau saat ini

Kompos esok hari

 


 

Surat Terbuka

May 29th, 2007 by elangpunah

“Oalah dik, saya itu sastrawan, seniman kapiran kelas eceran. Kamu tahu
itu. Saya bukan praktisi atau pembicara kelas wahid.”

 

“ Lho mas, saya tahu itu, tapi saya ‘kan kodrati menjadi eva, jadi mas sebagai adam harus
srudak-sruduk dan kompetitif dong!”

 

“ Lho anda itu bicara kodrati atau bicara normatif?”

 

“ Lho mas, itu semua buatan manusia, juga dalam deskriptif ‘kan ?”

 

“ Ealah dik, sekalipun deskriptif, tapi juga ‘kan segmentif. Secara perspektif jelas beda, satunya
kontekstual kanjeng gusti pangeran, satunya horizontal belaka.”

 

“ Sakarepmu lah mas.”

 

“ Lha nek adinda udah bilang gitu, maka pencapaian kita mentok.”

 

***

 

Ya begitulah hidup, saya menulis bahasa kata bersayap karena saya bukan
praktisi dalam bidang-bidang terkentu. Saya pecundang bersayap dan tak memiliki
genital sebagai lelaki dengan pasokan hormone testosterone yang gahar.

 

Lalu ketika saya bicara kebebasan dalam sudut pandang yang hakiki, dan
nyatanya belum mencapai tahap itu, maka sampai ketemu esok mimpi, karena anda
pasti pernah mendengar yang namanya pertimbangan, tolak ukur, resiko dan
probabilitas.

 

Semacam permainan jungkat-jungkit, maka siapa yang lebih berat dan
berteori dia yang menang. Padahal menjadi berat adalah mempertaruhkan
kolesterol dan kegesitan. Mengenai tersebut saya meyakini bahasa sastra saya
gesit, namun tidak hemat dan berat alis melompong, kosong, gosong. Telat
diangkat kali bow!

 

And then, you know that!

 

Bahwa kemerdekaan adalah hak segala ciptaan. Sebagai sastrawan bersayap
dan mengepak, tentulah saya belum merdeka selama tiada mampu ucap, “ I love you
babe!” or “ Miss you babe!” then what a
fuck with that!

 

***

 

Menyedihkan sekali sekiranya sastra sebagai bahasa kontemporer pelarian
imajinasi dan harapan pengertian secara tidak jelas, valid dan empirik.

 

Lalu bagaimana saya bisa menjelaskan rasa, hasrat dan keinginan hati
saya selama ada ikatan yang namanya norma dan kodrat?

 

Lalu apa yang saya perlu lakukan supaya anda—wahai pujaan hatiku,
supaya: mungkinkah secara vulgar kusebut identitas, jubah maupun seragammu
supaya adinda mengerti? Dan yakin saja, kalau kamu mengerti pasti akan berlari
karena normamu mengerti bahwa kepastian adalah kematian.

 

Kamu yang disana, yang mengerti, bahwa hasrat adalah keterlambatan, dan
perasaan menyayat ini adalah kesungguhan—detik ini, atas sebuah kemelaratan dan
keberanian kita untuk mengungkapkan bahwa kasih sayang adalah sebuah
kebahagiaan bagi kita dan sakit bagi mereka.

 

***

 

Persyaitonirojim dengan semua
itu, kenapa tak kau angkat pantatmu dari kursi itu, and then with me kita
goyang malam ini, you and me, dalam segedung klub malam yang penuh sesak.
Bertatapan, bersalsa dan goyang sesuka kita, dan menyanyikan I love you babe,
my pretty babe!

 

Kecantikanmu sempurna, otakmu juga bukan main-main. Kita sama, tapi kok
ya beda?!

 

Ternyata bedebahnya takdir adalah mempersatukan yang berbeda. Dalam
identitas dan absoluditas yang tak bisa disatukan. Apa gunanya minyak dan
minyak disatukan? Jadi api tentunya, dan akhirnya ditakdirkan tetap menjadi
minyak. Nyakkkkkk minyakkkkkk..

 

Pahitnya kita selalu mencari
persamaan, dan aku sama dengan kamu
dalam kata maupun pola. Semacam sebuah anyaman yang teratur. Namun indahkah-kan
say?

 

Ya indah, tapi apakah dengan persamaan ini kita bisa berevolusi
sempurna? Kita sama maka hampa. Lalu apakah kemudian takdir takkan pernah
mempersatukan orang yang memiliki kesamaan? Tidak! Karena dua matahari akan
membunuh habitus.

 

Lalu biarlah kita tetap seperti ini mengagumi dan tidak memiliki, dan
itulah esensi. Bisa jadi itu cinta. Karena cinta adalah imajinasi, ilusi turun
temurun yang takkan pernah tercapai. Karena cinta itu buta dan ditengah
kebutaan kita akan menggunakan mata hati dan kemudian; kita tahu hati ini tidak
buta bahkan sempurna sudah.

 

***

 

Jeng, kamu tahu tidak kenapa saya sangat apresiet sama laut? Dan mencoba
mendaftar angkatan laut namun gagal? Karena saya sekarang merasa genetika laut
begitu mengobrak-abrik sel-sel identitas saya, sebuah kebebasan. Sebuah
kebebasan atas pertemanan tanpa ikatan.

 

Dekat dan merasa kecil dihadapan alam. Tiada perlu kaum hawa. Tiada
perlu mandi tiap hari sekalinya karena kita tahu air tawar berharga dan
kemudian saat mandi di laut membuat rambut tidak karu-karuan?  Lalu pigimana rambut burgundy saya jeng?

 

Menatap langit dimalam hari kala tenang. Menantang badai dan siap mati.
Bersama sahabat mengarungi nyawa di tengah badai dan menjadi debu kisah. Tak
perlu pikir keluarga pun anak pinak. Berlayar dan berlayar, bermimpi saja atas
daratan baru, melampiaskan nafsu dan pergi begitu saja.

 

Rompak sana rompak sini, perkosa sana perkosa sini, bunuh

sana

cipratan dimana-mana. Sebuah petualangan atas cinta
dan persahabatan. Ah bisakah kamu rasakan tertidur di geladak menatap bintang
yang berjatuhan, dan esok hari menagkap ikan berlompatan berteman dingin dan
mentari pertama kemudian mati dalam senja saga macam serabut tak karu-karuan
indahnya?

 

Tiada yang menangisi, hanya kawan bukan keturunan. Aduhai tuan!

 

***

 

Kenapa harus mengikat dan menjadi tawanan hanya gara-gara tuan punya
sabda pada abraham?

 

Kenapa tidak kau sirami aku semacam hujan di geladak kapal. Tak usah
tiap waktu, dan akan kutadah kau dalam gentong-gentong nyawaku.

 

Aih aih… sastrawan kapiran, penghayal kelas wahid, pecundang dalam
kenyataan, memang cinta kita akan berakhir semacam air yang masuk ke dalam
saluran pembuangan.

 

Berakhir sudah, sempurnalah sudah dalam ketidak sempurnaan perspektifku.
Tak bisa dikira-kira memang bukan untuk selamanya. Aku hari ini tidak akan
bicara dalam sejarah sebagai daftar pustaka supaya kamu menyakininya. Persetan
dengan sejarah yang setiap waktu acap kali tidak seimbang dalam mencipta suka
maupun duka dan derita pun juga cinta.

 

Jeng, suatu waktu nanti entah itu kapan, pastinya keturunanku akan
menceritakan asal mula sebuah kisah maupun alkisah. Kamu dan aku dalam bahasa
dia yang lebih bersayap semacam syiwa dengan empat tangannya maupun dasamuka
dengan puluhan mukanya untuk bersembunyi ataupun menghadapi hidup yang
benar-benar hidup.

 

Ingatlah namaku dan panggillah, hingga nantinya kau akan mengingat keturunanku yang berkata,

 

“ Moyangku pecundang, namun aku pemenang!”

 

 

 

 

Lydia

May 29th, 2007 by elangpunah

 

Lydia adalah anak pertama magdalena. Ia sungguh cantilk dan
memiliki hidung papanya—yang sangat dikaguminya. Saya sangat jarang
bercengkerama dengannya, karena kesibukannya sebagai wanita karir yang secara
kondusifitas mengangkat harkat feminisnya demi dinilai sebagai orang yang
memang berkualitas. Dia punya banyak teman dan pemuja atas segala kecantikan
dan otaknya yang tidak sebatas pepesan kosong.

Lydia, setiap bertemu saya berharap untuk tidak menatapnya pun juga bersalaman
dengannya. Saya biasa bertemu pagi hari dan sama saja, selalu saya terpesona
dengan penampilannya nan aduhai, dan pembawaannya nan penuh senyum dan kehangatan dalam tegur sapa.

 

Pada pukul delapan pagi, Lydia berangkat dengan diantar sopirnya menuju kantornya
dengan menggunakan mobil sport yang sangat jarang ditemukan di
kota kami. Ia terus menerus mengirim pesan dengan
teman-temannya dan tentu saja relasi bisnisnya— dia adalah seorang yang
memegang peranan penting dalam dunia jasa di kantor. Lydia hanya menggunakan
bahasa Indonesia hanya kepada tamu formalnya, selain daripada itu dia begitu santai
menggunakan bahasa inggris.

 

Ia tidak merokok pun jua mengkonsumsi minuman beralkohol. Dalam keadaan
apapun dia bersumpah pada ibunya bahwasanya ini bukan karena larangan islam,
dia melakukannya karena inilah karunia dan sebuah tanggung jawab.

 

***

 

Suatu pagi dia memberi tumpangan ke tempat kerjaku dengan mengendarai
mobilnya, sebuah kehormatan dia menyupir sendiri. Lydia mengenakan celana denim
biru merek levis yang sangat ketat dengan ikat pinggang dari kain berwarna
hijau pupus metalik, ditambah sepatu hak berwarna magenta dan blus tembus pandang
warna hitam. Ia juga menggunakan banyak aksesoris imitasi, kecuali tas
chanel-nya yang terbuat dari beludru hitam dengan rantai emas yang sungguh
terlihat berat untuk kubeli dari kantongku. Tapi sungguh daripada itu bukan
hanya riasan namun parfumnya sungguh membuaiku.

 

Aih-aih semudah itu aku membuat paragraf melankolis demi kulakonkan
dalam diary pribadiku. Selalu saja kenapa aku menulis bahasa-bahasa para
cerpenis untuk menceritakan gadis yang kucinta secara kolektifitas waktu.
Setahuku bahwasanya
Lydia gadis biasa saja yana kebetulan aku membuainya dengan
imajinasi tiada terhingga.

 

Namun itulah Lydia, cantik bagiku dengan segala penampilannya, namun
dari semua itu aku menyembah dan menyujudkan dupa warna merah baginya atas
segala kecerdasannya dalam menyikapi hidup. Sebagai wanita satu-satunya, putri
dari mata rantai harta maupun keyakinan sebuah keluarga.

 

Lydia mengetahui itu dan menafikan itu bukan sebagai takdir
namun sebagai tolak ukur lompatannya dalam perjalanan esok harinya. Bukannya
dia menjadi sok kaya dengan mobil sportnya yang mengantarku hari ini, yang
kuyakini sangat mewah tapi baginya murah.

 

Ah saya bersumpah saja saat ini tiada bicara materialistik dalam Lydia, saya hanya akan menceritakan warna sesungguhnya
gadis itu.

 

***

 

“ Vin, maaf, kenapa bukan kamu saja yang setir ini mobil?”

 

“ Ah takut saja nanti ada apa-apa terus aku tertekan.”

 

“ Tenang aja sudah diasuransikan kok.”

 

“ Bukannya apa-apa, setir aja!”

 

“ Jangan melihat aku sebagai wanita terus menafikan feminisme, hanya aku
sangat ingin kamu memanjaku.”

 

“ Aih, jaman gini minta dimanja.”

 

“ Vin, aku minta ini karena kutahu aku tidak bisa minta apa-apa darimu,
bawalah ini mobil, kendarailah dan biarkan kubisa duduk menatapmu dalam
perjalanan ini.”

 

“ Aih, emang kamu mau aku bawa kemana sih?” kataku.

 

“ Pokoknya aku mau jalan aja sama kamu dan siang ini aku mau kamu bawa
aku jalan-jalan entah kemana.”

 

“ Aku ‘kan kerja!”

 

“ Kamu ‘kan pengangguran yang tidak jelas apa pekerjaannya.”

 

“ Aih jeng, kamu mau kemana tho?”

 

“ Terserah!”

“ Hi-hi-hi, suka aku dengan kejutan begini, tenan lho ya!”

 

“ Tenan!”

 

“ Kita ke Losari, tapi kamu yang bensini, bukannya matre, tapi uangku
sudah habis-habisan buat foya-foya penghabisan tanggal tua.”

 

“ Ha-ha-ha, aku tahu gayamu semacam itu, that’snt because of you don’t
have any money.”

 

“ Ngehek, oper sini mumpung lampu
merah.”

 

***

 

Masuk jalan bebas hambatan, kumasukkan pada gigi S, dan ngebutlah tiada
kira. “ Vin, mau kemana tho?”

 

“ Katamu terserah?”

 

“ Ya aku kan cuma pengen tahu.”

 

“Aku mau ajak kamu lihat senja di losari.”

 

“ Apa yang indah disana, dan lalu kenapa kamu bawa aku kesana?”

 

“ Kamu bersamaku.”

 

“ So what.”

 

“ Ah, kemanapun kamu pergi gadis cantikku, selama bersamaku pasti akan
indah.”

 

***

 

Perjalanan itu penuh cakap maupun tawa, tak kutahu kenapa ingin saja
kupeluk dia. Losari adalah dua jam dari kotaku.Aku bersamanya, sebuah
pertaruhan bahwa aku sungguh punya rasa lebih dengan dia, persetan dengan
semua. Kupeluk dia akhirnya. Dia bersender padaku, tangannya kebetulan di
pahaku, sebagai lelaki, tak tertahankan hasratku, kubawa tangannya ke pusat
dari segala pusat. Semakin terbuka saja celanaku. Kepalanya mendekat ke kelaminku.
Tubuhku bergetar, aku tidak tahan. Mataku merem melek, dan merem-melek, merem-merem.
Ah! Mobil ini masuk jurang!

 

PS :

 

“ Tai lu vin!”

 

“ Namanya aja usaha!”

 


 

 

Lingkar

May 23rd, 2007 by elangpunah

Tampaknya kemarau sudah tiba, ini saat terbaik
untuk meluruhkan semua mahkota dalam kepasrahan pada terik dan beratnya beban
yang harus kita tanggung, mohon percayalah kekasihku. Aku harus membiarkan ini
terjadi, kumesti menyerah. Dibawah terik ini kita tidak bisa memilih
kemerdekaan untuk mencetak kisah-kisah semu kita. Kamu hanya bisa meluruh dan
mengikuti kodrat yang ada. Percayalah semua ini ilusi, tiada jawaban dan
kenyataan.

 

Maka mari kita melangkah dalam kepapa-an,  dan percaya saja dunia itu tidak pernah salah,
pun juga kita sebagai pelakon nyata di dalamnya. Tidak ada maaf atas khilaf. Ini
kemarau tidak tertahan. Inilah yang setiap tahun kualami, kehidupan demi
kehidupan. Tingkap langit dan kulit bumi.

 

Buang keterpesonaan kita sebagai sebuah entitas
sempurna dan saling melengkapi. Kita adalah perbedaan, sebuah pengenyampingan
atas tumpukan keangkuhan. Sebuah jalan yang telah kita mengerti jika ingin
menjulang. Lupakan kepongahan kita saat merasa benar dengan mengatakan bahwa
semakin kita menjulang, semakin cepat juga ditebang.

 

Sayangku, jangan ragu atas apapun, beruntung
saja kita ada guna daripada menjadi kerdil dan melengkapi hias demi hias
kehidupan. Kita bukan tanaman hias, karena kita tidak berjodoh untuk itu. Kita
telah dibudidayakan oleh sebuah kuasa. Kita masih memilih norma dan jalan. Kita
diciptakan menjadi pohon yang menjulang. Kau disini dan aku disini. Kita sama
melihat karena puncak kita sama tinggi. Kita bukan bonsai nan kusut masai tanpa
pernah dihinggapi burung sebagai manifestasi wawasan, kriteria keterbukaan dan
harapan, atas  masa depan yang terbentang
luas. Ada daratan yang namanya laut, dan suatu saat batang kita akan ditatah
dan dipahat demi mengarunginya. Seandainya memang suratan, kau dan aku akan
menjadi tiang dan tuan nakhodanya.

 

Jangan menangis, usap itu. Tak perlu kita
ber-uluk salam, tak perlu juga kita menciptakan kehampaan, kekosongan dan
kematian sebuah rotasi atas harapan. Semua kataku ini benar. Ribuan tambur dan
sangkakala telah dibunyikan, aku berdiri tegap di ujung tebing berhadapan
denganmu, saling menatap, dalam sekejap mata—dan bersatulah kita dalam ruang
waktu dimana matahari berjingkat cepat di ujung cakrawala, bintang-bintang
berlesatan memenuhi harapan yang tak terkatakan.

 

***

 

“ Aku tiada pernah terpikir meninggalkan kamu
dalam tiga detik ini.”

 

“ Ya dalam tiga detik ini kau takkan
meninggalkanku, namun setelah itu?”

 

“ Aku akan menyimpanmu dalam katup-katup
hatiku.”

 

“ Aku memilih untuk tak kau simpan di hati dan
menikmati hari-hari nyata di sampingmu.”

 

“ Sekalipun malaikat maut menyambangiku?”

 

“ Entah, aku mengharap seperti itu, namun kodrat
bukan wewenangku.”

 

“ Cinta kita inilah kodrat.”

 

“ Kodrat hanya berkuasa atas mati dan hidup,,
bukan pada cinta.”

 

“ Kenapa kau kebiri kemahakuasaan-nya?”

 

“ Aku tidak bermaksud menyangsikannya, namun aku
tidak mampu menjadi berkuasa saat ini.”

 

“ Apa alasanmu?”

 

“ Aku ingin menjulang, maka kepasrahan mungkin
bisa menjadi harapan.”

 

“ Berharaplah padaku!”

 

“ Aku hanya berharap pada harap yang kumengerti,
bahwa kehidupan harus meluruhkanmu.”

 

“ Hanya menjadikanku pupuk atas tingkat demi
tingkat egomu?”

 

“ Mengertilah, luruhmu adalah hidupku dalam
musim tersisa.”

 

“ Ego-mukah ini semua?”

 

“ Ini bukan ego, ini demi kita, semakin besar
aku, semakin besar kita. Kita yang sesungguhnya, sebuah kesatuan yang hidup.”

 

“ Bagimu, akan dinilai sebagai kamu, bukan
luruhan masa lalu.”

 

“ Aku menyimpanmu dalam hatiku, dalam pokok
batang kita, saat nanti tiba saatnya ditebang, telah kuukir lingkar-lingkar
pengorbananmu di dalamnya.”

 

“ Keromantisan semu kukira sayangku, sebagai
bukti apa kubisa menyakininya?”

 

“ Tiada bisa kubelah dadaku, dan musykil juga
kukatakan ‘
kan kutebang tubuh ini. Waktunya belum tiba, dan
itu bukan suratanku. Akan tiba saat waktu; yang tertakdirkan membawa kapak
akhir hidupku.”

 

“ Dan dimana kita saat itu?”

 

“ Aku tak tahu.”

 

“ Kenapa kamu tak tahu?”

 

“ Aku hanya menjalani peranku.”

 

“ Peranmu, peranmu dan peranmu, kenapa bukan
peran kita?”

 

“ Itulah yang kutaktahu dan itu juga yang
kutahu.”

 

“ Andai kutakberkehendak meluruhkan diri?”

 

“ Itu hak kamu, namun kekecewaan hanya menjadi
garputala rasa.”

 

“ Aku tahu, tapi aku tidak tahu, aku tidak bisa
dan aku tahu aku tidak bisa, namun bisakah sang musim beri aku satu waktu untuk
bersamamu dan menemani rimbunnya perasaan kita nan semakin lebat?”

 

“ Itulah masalah kita, semakin lebat, itulah
saat, pun juga semakin aku menjulang tinggi, tak lama juga waktunya.”

 

“ Betapa pahit sisa hidupku.”

 

“ Jangan pernah mengutuk sang musim. Bersyukurlah
kita pernah bersama.”

 

“ Kamu bisa berkata begitu karena akan muncul
tunas baru dan daun-daun lain yang menemanimu, sedang aku?”

 

“ Tahukah kamu penderitaan ini sayangku? Saat
aku meranggas dan sendirian, saat daun demi daun luruh bergantian, semacam aku
ciptaan abadi yang tak pernah mati dan berulangkali kehilangan dan memusnahkan
perasaan sayangku? Kamu mati, teriring lokananta dan menjadi kenangan abadiku,
sedang aku masih merasa ada dan bukannya tiada?!”

 

“ Kenapa kita tidak bersama-sama mati?”

 

“ Kamu tiada bisa mengejawantahkan takdir
semacam itu, dan tiada mungkin aku mempertahankan kamu di rantingku. Kamu akan
layu, kuning dan berjatuhan. Dan itu berlangsung demi kutukan supaya aku tetap
hidup dan bersyukur.”

 

“ Aku ingin mengalami apa yang kau alami.”

 

“ Sampaikan itu pada sang pencipta musim.”

 

“ Sampaikah itu?”

 

“ Carilah itu.”

 

***

 

Mungkin saja itu kata terakhirku denganmu. kau
telah hinggap di atap-atap persembunyian akarku. Sesungguhnya aku tak pernah
melupakanmu. Ribuan percakapan dengan alfa dan omega-mu seakan tiada pernah
kumampu jelaskan. Ungkap demi ungkap, usapan demi usapan. Aku hanya bertahan
dengan peranku, semampu aku bertahan demi pertanyaan-pertanyaan yang semakin
menyakitkan dan berulang-ulang meruntuhkan kekukuhanku untuk terus menjulang.
Dan itu bukan kamu oh penyumbat rasaku. Ada ribuan semut, rayap, beburungan,
dan hewan melata beramai-ramai mencongkel semangatku, melapukkan imanku. Namun
aku masih bertahan demi kamu, demi pengorbananmu obati sakit dari setiap
congkelan kenyataan hidupku.

 

Aku semakin ada dan mengerti keberadaan. Bahwa
itu semua  tiada harus nyata, terlihat
dan bernyawa. Semua itu karena cinta, cinta yang kita ciptakan dari
tumpukan-tumpukan pengorbanan. Rasa pemahaman atas kekuatan bahwa pertanyaan
akan berakhir pada kematian. Dan itulah yang selalu kita tanyakan sembari
menyalakan lilin di malam nan penuh dengan manikam bintang.

 

Tiada pernah kutemukan kesetaraan absurd
melebihi sang pencipta musim dan cinta itu sendiri. Apakah mereka itu satu atau
terbagi oleh pengorbanan kita?

 

Kenapa cinta tak bisa abadi? Sebagai apa
keabadian sekiranya kita mati dan meninggalkan orang yang kita cintai. Salahkah
berharap dalam setiap kematian kubisa menggandengmu? Daun demi daun yang telah
mengorbankan segala? Namun bukankah kaprah apabila aku melihat daun bukan
sebagai satu kesatuan? Aku melihat daun demi daun; bukankah itu semua daun?
Benarkah itu cinta ketika semua terlihat satu dalam keanekaannya?

 

Dan sang pencipta musim; kenapa tiada pernah kau
merasa bosan dengan ribuan pohon dan jutaan daun, kenapa juga tak kau titah semua
itu tunggal, satu dan bermakna, bermaknakah ini semua?

 

Selalu dan selalu dalam setiap masa dan
generasi. Aku semata pohon yang selalu menanyakanmu, layaknya daun mencecarku.
Mungkinkah kau kesepian; selalu sendiri dan berteman pohon demi pohon macam aku,
yang terus menemanimu dari masa kemasa, dari kefanaan satu ke kefanaan yang
lain. Betapa nanti di surga
sana setelah kematianku kau
akan memamerkan gurat-gurat kenangan kita, seperti juga saat itu nanti akan terbelahlah
tubuhku, dan setiap cinta akan memastikan kejujuranku. Tapi perlukah itu?

 

Kenapa aku yang sebatas pohon ini selalu
berharap kepastian atas lubang di tangan dan kejujuran insani, sedang aku
sendiri sudah musnah. Apakah aku perlu memaksakan setiap penebangku untuk jujur
dan mengambil apa yang telah menjadi haknya dan menggunakan sesuai porsinya?

 

Siapa aku?

 

Apa peranku, bisakah aku mempertanyakan pun
menegosiasikan? Entah sebagai tiang atau hanya pasak belaka. Dengan segala
pilihan dan resikonya, Bisakah aku memilih? Apakah pasak itu sebatas batang
pohon yang tak pernah meranggas, dan merasakan derita atas hidup dan cinta?
Bolehkah aku memilih? Silahkankah katamu?

 

Apakah untuk mencapai harap sebagai tiang layar,
aku yang hanya sebatas pohon dari ribuan cipta harus berjuang mati-matian
membunuh perasaan demi mengamati luruhnya perasaan ini?

 

Itukah sebuah pengorbanan dan pembuktianku
padamu wahai sang pencipta musim? Sebuah kesetiaan sempurna, sebuah penyerahan
pada suratan? Hanya dengan berserah atas segala waktu dan memahami konsep
penderitaanmu?

 

Jangan menangis di depanku, jangan pernah
menangis atas pengorbananmu. Peluruhanmu adalah sebuah jalan untukku. Dan kau
pegang atau tidak harapku, aku pun tiada akan pernah emispinta di depan sang
pencipta hiba demi perlambat musim. Cukup embunmu dan keringnya batangku.

 

***

 

Kita sekarang di ujung tebing, kamu dan aku, sebuah
tebing pilihan. Memilih kemerdekaan dan melompat ke dalam jurang
ketidak-mengertian, atau memilih tetap disini pada batas kemerdekaan kita yang
sempurna.

 

Sebuah penyerahan, setelah kelelahan.

 

Jangan menangis. Kita bukan bangsa pengemis.